Alhijrah.co,-Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)  Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Prof. Dr.  Zurqoni, M.Ag. mengajak masyarakat untuk bijak dalam menanggapi Surat Edaran Kementerian Agama Nomor 1 Tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1445 Hijriah.

Prof. Dr.  Zurqoni, M.Ag menuturkan bahwa masyarakat diharapkan dapat bersikap bijak dalam menanggapi kebijakan Kementerian Agama terkhusus dalam menyikapi aturan pengeras suara di masjid dan musala saat masa Ramadan.  

“Surat Edaran Kementerian Agama Nomor 1 Tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1445 Hijriah ini mari kita sikapi dengan bijak dan penuh toleran,” ungkap Prof. Dr.  Zurqoni, M.Ag.

Menurut Rektor UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda kelahiran Lamongan ini bahwa Surat Edaran Kementerian Agama Nomor 1 Tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1445 Hijriah ini muaranya adalah demi kemaslahatan umat.

“Pengeras suara guna menyerukan suara azan, salawat hingga tarhim memang diperlukan untuk syiar Islam, namun diharapkan jangan sampai mengganggu masyarakat di sekitar, apalagi jika masyarakat di sekitar terdiri dari beragam penganut agama,”ujar Zurqoni.

Baginya penggunaan pengeras suara bukan satu-satunya media dalam syiar Islam namun masih banyak metode syiar yang bisa dan dapat menggunakan media lain tanpa pengeras suara. “Tentu saja masih banyak metode yang lebih humanis dan bisa dipergunakan untuk mensyiarkan agama. Namun syiar agama dengan menggunakan pengeras suara apa lagi di waktu-waktu istirahat tentu berpotensi dapat mengganggu pihak lain. Untuk itu mari bersikap bijak dan toleran dalam menggunakan media pengeras suara,”jelasnya.

Menurut Rektor kampus yang kerap disebut UINSI Samarinda ini Surat Edaran Kementerian Agama Nomor 1 Tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1445 Hijriah bukan lagi sesuatu yang baru. Mengingat surat edaran semisal juga pernah diterbitkan Kementerian Agama di tahun sebelumnya. Sebut saja tahun lalu terdapat surat Edaran Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2022 kemudian di tahun 1987 juga dapat dijumpai tentang pengaturan pengeras suara dan telah disetujui oleh ijtima komisi fatwa MUI pada 2021.

“Apalagi kalau kita mau melihat di negara lain, pengaturan suara azan juga telah diterapkan di sejumlah negara seperti, Malaysia, Arab Saudi, India, Mesir, dan Turki dengan maksud serta tujuan yang sama,”sebutnya.

Prof. Zurqoni menjelaskan bahwa edaran yang berisi kebijakan mengatur pengeras suara merupakan upaya untuk meningkatkan harmoni antarumat beragama serta sebagai langkah nyata Kementerian Agama RI dalam menyuarakan moderasi beragama.

Prof. Zurqoni, M.Ag mengajak masyarakat untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban dan kesantunan yang dimulai dari tetangga kanan kiri sebagaimana yang disampaikan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

“Bijak dalam bersikap patut kita kedepankan dalam menghadapi surat edaran tersebut. Kerukunan dan harmoni antar umat beragama tetap harus dijunjung tinggi demi masyarakat Kaltimtara yang moderat dan berwawasan global,”pungkasnya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *