(Foto: Freepik)
Alhijrah.co,-Tatkala azan Maghrib terdengar berkumandang di bulan suci Ramadan, setiap orang yang mendengarnya sibuk untuk siap-siap bersantap buka puasa. Sementara dalam Islam juga dianjurkan untuk melaksanakan sholat fardhu di awal waktu. Oleh karena itu, di beberapa tempat terkadang selepas tiba waktu maghrib tak berselang lama kemudian sholat jamaah maghrib segera didirikan. Tujuannya tak lain ialah agar orang-orang yang tengah berpuasa punya cukup waktu untuk berbuka usai sholat.

Lantas, manakah yang semestinya didahulukan antara berbuka puasa atau melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu? Pasalnya, kondisi seseorang yang telah puasa seharian bisa kehilangan konsentrasi, kehilangan kekuatan, atau bahkan pikirannya bisa kemana-mana saat sholat.

Dalam salah satu redaksi hadits, disampaikan bahwa apabila waktu sholat telah tiba, sedangkan makanan telah tersaji dan saat itu dalam kondisi sangat lapar maka Rasulullah saw menganjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan. Hal ini sebagaimana tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari

Artinya: “Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari shalat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian”. (H.R. Bukhari)
Hadits tersebut bertujuan agar seseorang bisa khusyuk saat melaksanakan sholatnya. Sebab, bilamana perut seseorang dalam kondisi sangat lapar dan membutuhkan asupan makanan maka akan rawan menyebabkan ketidakkhusyukan dalam pelaksanaan sholat. Dan tentu dalam benak dan pikirannya akan selalu terbayang-bayang terhadap makanan.

Dengan demikian, menurut pandangan Imam Al-Qisthalani (wafat 923 H) hadits ini dapat dipahami sebagai landasan argumentasi atas keutamaan khusyuk saat sholat ketimbang keutamaan pelaksanaan sholat di awal waktu:

Artinya: “Dalam hadits ini terdapat landasan dalil akan lebih utamanya fadilah khusyuk dalam sholat daripada fadilah sholat di awal waktu. Karena sesungguhnya, tatkala keduanya saling bertentangan maka syari’at lebih mendahulukan perantara terhadap hadirnya hati (makan) ketimbang melakukan sholat di awal waktu.” (Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Malik Al-Qisthalani, Irsyad As-Sari Li Syarh Sahih Al-Bukhari [Mesir: Al-Mathba’ah Al-Amiriyyah], vol. 2, h. 40)
Merujuk pandangan ulama fiqih mazhab Syafi’i, antara berbuka puasa dan melaksanakan sholat maghrib maka lebih disunahkan untuk berbuka puasa terlebih dahulu. Namun, hal ini berlaku ketika tidak khawatir akan ketinggalan sholat jamaah atau takbiratul ihram-nya imam.

Ketentuan ini sebagaimana yang disinggung oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari (wafat 987 H) dalam kitabnya:

Artinya: “Dan disunahkan untuk menyegerakan berbuka puasa ketika telah yakin masuk waktu maghrib, dan mendahulukan berbuka atas sholat, jika tidak dikhawatirkan tertinggal sholat jamaah atau takbiratul ihramnya imam.” (Zainuddin Ahmad bin Abdul Aziz Al-Malibari, Fath Al-Mu’in Bi Syarh Qurrah Al-‘Ain [Beirut: Dar Ibn Hazm], vol. 1, h. 273)

Meski begitu, konteksnya berbeda bilamana seseorang dalam kondisi sangat lapar sedangkan waktu sholat fardhu sebentar lagi akan berakhir, dan seandainya ia mendahulukan makan maka waktu sholat tersebut akan habis. Maka dalam kondisi demikian ia harus mendahulukan sholat pada waktunya:

Artinya: “Dari hadits ini juga dapat diambil dalil akan kemakruhan sholat (dalam kondisi lapar) karena dapat menyibukkan hati dari khusyuk yang menjadi tujuan utama sholat. Apabila waktu sholat sebentar lagi berakhir, dengan gambaran seandainya makan akan keluar dari waktunya. Maka ia harus segera melaksanakan sholat dan tidak diperkenankan untuk mengakhirkannya karena menjaga terhadap kehormatannya waktu sholat.” (Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Malik Al-Qisthalani, Irsyad As-Sari Li Syarh Sahih Al-Bukhari [Mesir: Al-Mathba’ah Al-Amiriyyah], vol. 2, h. 40)

Dari penjelasan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa antara berbuka puasa dan melaksanakan sholat maghrib yang disunahkan adalah berbuka puasa terlebih dahulu. Hal ini apabila seseorang dalam kondisi sangat lapar dan selama waktu sholat masih panjang, serta tidak adanya kekhawatiran akan ketinggalan sholat berjamaah atau takbiratul ihram-nya imam. Bahkan jika memaksakan untuk tetap sholat, maka hukumnya bisa menjadi makruh sebab dapat berpotensi terhadap hilangnya kekhusyukan. Wallahu a’lam bisshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *