Ilustrasi Rebahan (freepik)
Alhijrah.co,-Bulan Ramadhan yang disebut-sebut bulan yang membawa limpahan karunia dan rahmat tentu tidak semestinya disia-siakan begitu saja. Meskipun sebagian umat Islam harus beradaptasi dari yang sebelumnya makan minum beralih menjadi menahan lapar dan dahaga.

Demikian pula dengan aktivitas harian lainnya seperti berangkat kerja, masuk sekolah juga mengalami penyesuaian, dan harus beradaptasi dengan baik, termasuk jam istirahat. Tak ayal, sistem kerja tubuh mengalami penyesuaian pula. Misalnya, sebagian orang ada yang sejak dari pagi hingga sore hanya digunakan untuk rebahan atau tidur saja.
Tentu apa yang dilakukan orang tersebut bersumber dari sebuah hadits yang dijadikan dasar terkait tidurnya orang puasa adalah ibadah. Berikut redaksi yang tercantum dalam kitab Syuab al-Iman karya Al-Baihaqi:

Artinya: “Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata, Rasulullah bersabda, tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan (mustajab), dosanya terampuni”

Dalam kitab Hilyatul Auliya (5/83) juga disebutkan:

Artinya: “Dari Ibn Mas’ud, ia berkata, Rasulullah bersabda, tidurnya orang berpuasa itu ibadah, nafasnya tasbih, doanya dikabulkan”
Kedua redaksi di atas sejatinya menjelaskan betapa mulianya orang yang berpuasa meskipun dalam keadaan istirahat dan tidur. Tentunya setelah beraktivitas seharian, bukan malah dijadikan dalih untuk bermalasan.

Akan tetapi yang disayangkan, sebagian umat Islam menggunakan dan memaknai hadits dengan rebahan, tidur, dan bermalas-malasan seharian tanpa beraktivitas, sambil menunggu waktu berbuka adalah sebuah ibadah. Hal ini tidak tepat dan dapat menyebabkan tubuh semakin lemas saat bangun.

Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menegaskan:

Artinya: “Sebagian dari etika dalam puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari, hingga seseorang merasakan lapar dan haus serta dapat merasakan kekuatan yang melemah, sehingga dengan demikian hati akan menjadi jernih”, (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, juz 1, hal. 246).

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidur atau rebahan di siang hari ketika puasa Ramadhan bernilai ibadah jika memang sudah selesai dari beraktivitas. Bukan malah dipahami untuk rebahan, bermalas-malasan saja, apalagi tidur seharian hingga masuk waktu berbuka puasa. Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk beraktivitas mengisi kebaikan, menahan diri dari perbuatan tercela, seperti perkataan buruk, dusta, hasud, ghibah, dan lainnya. Wallahu a’lam bis shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *