Ilustrasi (freepic)
Alhijrah.co,- Banyak yang menulis tentang status hukum batalnya puasa seseorang ketika dia melakukan tindakan mengorek telinga dengan alat seperti cotton bud atau bahkan meneteskan obat telinga ketika berpuasa. Padahal terkadang, tindakan tersebut juga diperlukan sebagaimana menggaruk kulit yang gatal karena merasa tidak nyaman atas kondisi itu.

Padahal jika dikaji lebih mendalam, ternyata para pakar madzhab Syafi’iyah tidak semua memvonis batal puasa orang yang memasukkan sesuatu ke telinganya. Untuk itu perlu adanya literasi tentang kajian ini agar bisa disebut dengan kajian yang berimbang dan juga analisis pendapat yang memperbolehkan. Hal ini juga sangat penting bagi mereka yang membutuhkan justifikasi hukum atas tindakan yang akan dilakukannya.

Memang benar pada dasarnya telinga termasuk dalam kategori manfadz atau rongga tubuh yang bisa membatalkan puasa jika dimasuki oleh sesuatu sebagaimana menurut al-Anshari dalam Asnal Mathalib berikut:
Artinya: “Jika seorang yang berpuasa memasukkan sesuatu ke dalam telinga atau (lubang kemaluannya atau lubang puting) dan sampai kepada organ dalam maka puasanya batal, meskipun tidak ada rongga (manfadz) yang menghubungkan antara telinga dengan otak, karena telinga termasuk bagian tengkorak kepala maka dia termasuk kategori lubang tubuh (jauf), atau tidak sampai melewati batas khasyafah dan tidak melewati puting payudara karena termasuk dalam kategori lubang tubuh”. (Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib Syarh Raudhatut Thalib, [Beirut: Darul Fikr, tt], juz I, hal. 416.).

Hampir semua teks buku-buku Syafi’iyah yang mengklaim telinga adalah manfadz berargumentasi sama bahwa telinga berada di tengkorak kepala dan termasuk dalam kategori lubang tubuh sebagaimana yang lainnya.

Kriteria rongga tubuh (jauf) sendiri memang tidak disyaratkan harus mampu untuk melebur atau mencerna makanan atau obat-obatan sebagaimana lubang anus yang mampu melebur obat, oleh karena itu lubang telinga dan ihlil termasuk kategori jauf meskipun terkesan aneh karena sesuatu yang memasuki keduanya terkesan tidak membawa dampak apapun bagi orang yang berpuasa. (Muhammad Mahfudz al-Turmusi, Muhibah Dzil Fadl, [Beirut: Darul Minhaj, 2018], juz X, hal. 548.).

Meskipun mayoritas Syafii’iyah berpendapat demikian, ada beberapa pakar Syafi’iyah yang mengklaim bahwa memasukkan sesuatu ke telinga tidak membatalkan puasa. Seperti al-Ghazali yang mengklaim bahwa pendapat tersebut sahih:
Artinya: “Pendapat sahih bahwa membasahi telinga dengan minyak tidak membatalkan puasa”. (Muhammad al-Ghazali, Al-Washith fil Madzhab, [Kairo: Darus Salam, 1997], juz II, hal. 525.).

Perbedaan ini disebabkan karena beda dalam pendefinisian kata jauf itu sendiri. Pendapat yang membatalkan mengatakan bahwa jauf tidak harus memiliki kemampuan untuk mengolah makanan atau obat-obatan. Sedangkan menurut al-Ghazali, ketentuan itu harus ada sehingga lubang telinga dan ihlil menurut al-Ghazali tidak termasuk jauf.

Pakar Syafi’iyah yang senada dengan al-Ghazali ternyata juga banyak, mereka disebutkan oleh al-Nawawi dalam al-Majmu sebagai berikut:
Artinya: “Pendapat kedua tidak membatalkan menurut Abu Ali al-Sinji, Qadhi Husain, dan al-Faurani, juga disahihkan oleh al-Ghazali seperti menggunakan eye liner. Menurut mereka tidak ada jalur dari telinga menuju ke otak, keduanya dihubungkan oleh pori-pori seperti kasus eye liner, begitu juga tidak membatalkan puasa ketika minyak diserap melalui pori-pori perutnya, berbeda kasus dengan hidung karena menghirup air bisa sampai ke otak melalui jalur yang terbuka”. (Yahya al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, [Beirut: Darul Fikr, 2021], juz VI, hal. 322.).

Hal yang menarik tentang problematika ini adalah catatan Muhammad al-Syathiri dalam Syarh Yaqut al-Nafis yang mengutip catatan Sayyid Ahmad Biek al-Hasani dalam Syarh al-Umm yang berjudul Mursyidul Anam li Birri Ummil Imam meskipun syarah ini tidak diterbitkan padahal merupakan syarh pertama untuk kitab induk madzhab Syafi’iyah, sebagai berikut:
Artinya: “Teks naskah “tidak” terhapus dari naskah-naskah para restorator kitab al-Umm tentang teksnya sebagai berikut “dan membatalkan puasa sebab masuknya sesuatu ke telinganya”. Sedangkan teks naskah aslinya adalah “dan tidak membatalkan puasa sebab masuknya sesuatu ke telinganya”. (Muhammad al-Syathiri, Syarh Yaqut al-Nafis fi Madzhabi Ibni Idris, [Beirut: Darul Minhaj, 2011], hal. 305.).

Kedua pendapat sepakat bahwa telinga adalah rongga yang tertutup dalam arti tidak ada penghubung di bagian dalam kepada otak meskipun terbuka dari luar. Dari kesepakatan itu juga kedua pendapat tidak bersepakat tentang konsekuensi yang ditimbulkan ketika kemasukan air atau sesuatu yang lain ke dalam telinga ketika puasa. Wallahu a’lam bisshawab.
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *